4.5.10

Kembalilah Sahabat

Kulihat dirinya disudut kota setelah hampir 4 tahun tak saling berjumpa dan melepas rindu. Dia masih cantik dengan atau tanpa alat kosmetik, inner beautynya bisa membius setiap lelaki yang menatapnya.


Namun cahaya wajahnya meredup seiring remang remang malam semakin lelah menemani orang-orang kota melewati hari ini. Kusapa dia dengan kegundahan ” Assalamu’alaikum ?”

Setelah lama baru dia memalingkan wajahnya ke arahku tanpa jawab ?

Sungguh, aku tak lihat gadis yang dulu sempat kutaksir ini sebagaimana ketika dia masih kuliah. Penuh keceriaan dan aura positif selalu memancar dari dirinya. Tapi, malam ini dia dalam kegelapan sehingga sulit bagiku untuk menerka isi hatinya. Apakah dia tak mengenali ku atau dia memang sedang dirundung kesedihan sehingga tak mampu merespon apapun yang mengstimulus dirinya saat ini.

Apabila kutarik waktu di 4 tahun lalu, sungguh perbedaan hebat ada didalam dirinya. Dia sekarang berkendara sebuah sedan jerman terbaru, dengan gaun yang ku taksir hasil belanjaan dia di negeri jiran, KL. Dandanannya juga tak menggambarkan dirinya yang dulu sangat sederhana dan anggun … sungguh ada apa ?

Akhirnya dia mau bercerita saat kami sudah duduk disudut cafe sambil menyeruput nescafe, betapa dia telah mengejar apa yang dia cita-citakan saat kuliah yaitu kekayaan, ketenaran, kemegahan dan dia sudah mendapatkannya. Namun, dia tak bahagia. KATANYA.

Setelah kupahami apa yang menyebabkan dia penuh kegundahan malam ini … sebelum ku berpisah … ku katakan padanya, bukan itu kebahagian kita, namun sejauh mana kita menggapai ridhoNYA lah yang dapat membuat kita bahagia.

Perpisahan ini, ku tutup dengan melihat dia yang mulai mempunyai harapan dari kegelapannya saat ini. Dan aku hanya bisa berkata : KUM KUM YA HABIBI (bangun bangunlah wahai kekasih)

0 komentar:

  © Blogger template ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP