24.10.09

Senandung Kecil

Yaa, Zahratii ... Yaa, Zahratii...
Yaa, Bunayya ... ya aziizii
Anti lii thiflun shoghiir
Jauharun fauqol hayati


Duhai Zahraku....
Duhai anakku, pujaanku
Engkau Si kecil milikku
Bintang gemerlap di atas kehidupan....


Maknanya kurang lebih demikian. Bait syair di atas didapat dari almarhum Ayah kami, Ahmad Dimyati, yang juga kakeknya Zahra. Menurut Ibu/nenek Zahra, (Siti Afarah) dahulu beliau sering bersenandung dengan syair berbahasa Arab itu, saat menimang-nimang anak pertamanya Kanzul Fikri. Dalam baris pertama syair itu sengaja diganti kata ”Zahra” nama anak kami.

Tidak jelas, apakah syair itu kreasi beliau sendiri atau mengambil dari salah satu kitab sastra Arab kuno. Tetapi memang, belum pernah kami mendengar atau menemukan untaian kalimat-kalimat di atas melalui suatu buku atau orang lain.

Syair itu sederhana. Namun apabila kita mengerti bahasa Arab, kata-kata yang dipilih sangat indah dan puitis.

Syair itu, mesti diucapkan dengan senandung. Seperti lagu-lagu nasyid yang sekarang populer. Maka, meskipun tidak mengetahui artinya sekalipun, sungguh enak didengar. Seperti kebanyakan kidung dan senandung untuk anak kecil.

Siapapun Anda, para orang tua, tentulah memiliki romantisme tersendiri dalam kelahiran. Dan, dalam bentuk ungkapan yang beragam dalam tradisi kita, memiliki khasanah ataupun kekayaan sesandung si kecil. Apapun bahasa yang dipergunakan, serta apapun suku bangsa mereka.

Ada satu senandung menghantar tidur yang masih sangat lekat sampai sekarang, yang kala kecil dulu sering dilantunkan Ayah. Dalam tradisi Jawa senandung ini sangat populer. Bunyinya kurang lebih begini:

Turu... turu, turu lali
Turokno .. bayine iki
Yen ra turu, sing disuwun opo
Sing di suwun kitiran dowo

Dowo-dowo nyogrok moto
Nglandung-nglandung nyogrok irung

Pituk tulak pitik tukung
Tinulak-ing si jabang bayi
Si Tukung manggung ing arsy
Si Tulak medun ing margi
Si jabang bayi puniko
Kekasih Engkang Widhi

”Tidur dan tidurlah sayang. Tidurkan si jabang bayi ini. Kalau tidak apa sih yang diminta. Yang diminta ternyata mainan kipas panjang.”

”Ayam tulak, ayam tukung. Si Tukung bernyanyi di arsy, si tukung bernyanyi di bumi. Si kecil bayi ini, kekasih Yang Kuasa”

Kurang lebih demikian artinya.

Dari belahan dunia lain, boleh juga dikutipkan di sini. Penyair sepanjang abad dari Libanon, Kahlil Gibran, mengenalkan karyanya yang bgitu indah dan penuh refleksi mendalam. Sebuah karya yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia.

”Anak-anakmu bukanlah milikmu.
Ia milik Sang Maha Hidup yang rindu akan dunianya.

Patut kau pikirkan rumah untuknya.
Sebab dalam dirinya telah tumbuh ”rumah” nya sendiriyang tidak dapat engkau kunjungi.

Kau adalah busur. Dan ia ibarat anak panah.
Dan Sang Maha Hidup membentangkan busur panah itu, maka melesatlah anak panah itu menuju sasarannya. Sekali-kali kau tidak akan bisa menjangkaunya”.

Kutipannya kurang lebih demikian. Sebagai orang tua baru, kami masih harus banyak belajar. Belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik. Belajar mendidik anak kami. Belajar menjadi ”busur” yang kokoh bagi anak kami. Sehingga mampu menghantarkan ke arah cita-cita dan tujuan anak kami kelak sesuai pilihannya sendiri.

Semoga..

0 komentar:

  © Blogger template ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP