KESYAHIDAN HUSEIN
oleh:Abdul Hadi W. M.)
Melihat luasnya daerah penyebaran hikayat ini di Indonesia dan sambutan terhadap kehadirannya, serta besarnya pengaruh terhadap perkembangan sastra Nusantara, layaklah apabila kita ajukan beberapa pertanyaan. Apa relevansi dan arti hikayat ini bagi orang Islam di Indonesia? Pesan moral apa yang dikandung di dalamnya hingga memberi pengaruh kuat dan mendalam bagi pembacanya di masa lalu dalam sejarah perkembangan Islam?
Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus memahami arti dan fungsi epos dalam kebudayaan Islam, dan kondisi-kondisi sosial dan kemanusiaan seperti apa yang memungkinkan kelahirannya? Karya sastra tidak lahir dari kekosongan sejarah. Di belakangnya senantiasa hadir faktor-faktor tertentu dan kemunculannya senantiasa mengacu pula pada konteks tertentu yang tidak jarang begitu kompleks. Pada permulaan berkembanganya Islam di Indonesia, para penyebar agama ini sadar bahwa yang diperlukan bukan hanya mengajarkan kandungan ajaran Islam berkenaan keimanan atau Tauhid, serta tuntutan untuk berbuat kebajikan dan membangun akhlaq yang mulia. Pengajaran tentang itu diperoleh melalui ilmu-ilmu dan kearifan Islam. Mereka juga sadar bahwa yang mesti dibangun adalah kebudayaan Islam. Kesusastraan adalah salah satu media penting untuk itu. Karena itu para penyebar Islam awal dan generasi-generasi selanjutnya itu berusaha pula memperkenalkan hasil-hasil kesusastraan Arab dan Persia yang telah diberi roh Islam.
Fungsi atau peranan kesusastraan dalam tradisi intelektual dan kebudayaan Islam ialah memberi gambaran yang menyentuh hati bagaimana pokok-pokok ajaran Islam tentang Tauhid atau keimanan, perbuatan saleh, akhlaq yang mulia, atau keharusan amal ma`ruf wa nahiy munkar wa tu`minuna bilLah diamalkan dalam segala lapangan kehidupan, termasuk kehidupan sosial, budaya, intelektual, etik dan estetik. Lebih jauh pula ialah bagaimana pengalaman religius dan pribadi, pengalaman sosial dan sejarah, serta pengalaman-pengalaman lain yang bersifat kerohanian dan duniawi, diekspresikan melalui ungkapan estetik yang menyentuh hati dan emosi.
Epos atau hikayat perang sebagai genre penting dalam sastra Islam berkenaan dengan pengalaman sejarah orang Islam, khususnya perjuangannya menegakkan ajaran agama. Peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah perlu dijadikan ingatan kolektif sebab di dalamnya mengandung pelajaran dan sekaligus dapat dijadikan sarana untuk membangun soilidaritas sosial. Lebih jauh dalam Islam peranan epos bukan semata-matya bukan membangkitkan semangat dalam berjuang menegakkan kebenaran. Melalui epos orang Islam juga diberitahu peperangan seperti apa yang diperbolehkan di jalan agama, untuk tujuan apa peperangan seperti itu dilakukan, siapa saja orang atau kelompok yang patut diperangi di jalan agama, bagaimana memperlakukan musuh yang sudah menyerah dan menawarkan perdamaian? Bagaimana pula jika diketahui perdamaian yang ditawarkan hanya sekadar tipu muslihat sebagaimana banyak dialami kaum Muslimin sejak dulu hingga sekarang di berbagai belahan bumi.
Dalam Islam, perang tidak dimaksudkan sekadar membela negara dan bangsa, tetapi terutama menentang ketidak adilan dan kezaliman yang sering bersimaharajela di dunia. Ini tercermin dalam epos seperti Hikayat Sayidina Husein dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Juga dalam Hikayat Amir Hamzah da Hikayat Iskandar Zulkarnaen. Hikayat-hikayat seperti itu jauh semangat chauvinistik seperti epos Yunani. Juga tidak kelewat apokaliptik seperti epos Hindu. Peperangan antara pasukan Pandawa dan Kurawa di Kurusetra dalam Mahabharata misalnya digambarkan seperti perang akhir zaman di Armagedon. Musuh yang dikalahkan dibinasakan, begitu pula istri, anak-anak, dan ternak mereka. Dalam epos Islam, musuh yang kalah menjadi tawanan dan kemudian dirangkul dalam persaudaraan Islam.
Motif utama perang dalam Islam ialah menentang sistem yang melahirkan ketidak adilan atau rejim yang menindas. Apakah rejim atau penguasa itu mengaku Muslim atau bukan Muslim, sama saja akan ditentang. Tepat sekali oleh karenanya apa yang dikemukakan Fredinand de Lessep, si pembangun Terusan Suez hampir dua abad yang silam. Katanya, “Bukan fanatisme yang mendorong semangat kaum Muslimin untuk menentang penguasa tertentu dan imperialisme, akan tetapi agama dan jiwa kebudayaan Islam itu sendiri yang menggerakkan mereka untuk berjuang dan yang mampu mempersatukan perjuangan mereka. Jiwa kebudayaan Islam yang mampu menggerakkan itu ialah penolakan atas ketidak adilan an penindasan atas nama apa pun, jadi bukan disebabkan fanatisme atau fundamentalismenya.” (Jansen 1983).
Dalam hikayat yang kita bicarakan, yang di dalamnya dibeberkan aneka pengalaman sejarah berharga yang patut dijadikan ingatan kolektif orang Islam, contoh-contoh berkenaan dengan apa yang dinyatakan Ferdinand de Lesseps banyak kita jumpai. Tawaran perdamaian yang disodorkan Muawiyah kepada Sayidina Ali dan diterima oleh sang khalifah, adalah contoh kemuliaan hati Sayidina Ali yang tidak mau melakukan peperangan hanya disebabkan dorongan kekuasaan dan nafsu membalas dendam. Tetapi tahkim yang dilakukan setelah itu ternyata merupakan tipu muslihat untuk menyingkirkan Ali dengan cara yang tidak terpuji. Yang terakhir ini adalah contoh tindakan yang tidak mencerminkan rasa keadilan dan benar-benar zalim. Tipu muslihat serupa dialami ribuan kali oleh orang Islam dalam sejarahnya, bukan saja dulu tetapi terlebih-lebih di masa modern. Pangeran Diponegoro, pemimpin perang antikolonial di Jawa (1825-1830 M), ditawari perdamaian oleh Belanda untuk dijebak. Begitu sampai di tempat perundingan beliau ditangkap dan diborgol tangannya untuk dijadikan tawanan seumur hidup. Bangsa Arab, khususnya Arab Palestina, mengalami hal serupa berhadapan dengan penguasa zionis Israel . Banyak sekali perjanjian damai ditandatangani tetapi tidak lebih dari tipu muslihat.
Dorongan Sayidina Husein dan pengikutnya untuk memerangi Yazid juga tidak lebih dari ungkapan rasa kecewa melihat kezaliman dan penindasan yang dilakukan penguasa Umayyah atas kaum Muslimin. Husein tidak mempedulikan nasib apa yang akan menimpa dirinya. Pengurbanan dan keberaniannya menentang penguasa yang zalim dan rezim penindas adalah teladan yang akan selalu dicontoh oleh mujahidin Islam yang sejati. Begitu juga keberaniaan adik tirinya Muhammad Ali Hanafiyah yang dengan gagah berani memimpin pasukan untuk mengakhiri kekuasaan Yazid, adalah juga memberikan teladan yang terpuji. Tanpa mempedulikan apakah di dalam hikayat ini terdapat propaganda ideologi Kaisaniyah, atau Syiah secara umum, relevansi dari epos ini semestinya dilihat melalui kacamata lain yang lebih jernih. Yaitu dengan melihat dalam konteks sejarah yang bagaimana teks hikayat ini mulai ditulis dan disebarluaskan di Indonesia .
Hikayat ini seperti epos Islam lain khususnya Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Iskandar Zulkarnaen, telah hadir di Nusantara pada abad ke-14 dan 15 M, periode-periode awal pesatnya Islam berkembang. Pada periode-periode ini sudah pasti banyak tantangan dihadapi komunitas Muslim yang baru muncul ini. Tantangan yang paling menonjol bersifat politik dan kultural. Ini dapat dimengerti karena ketika itu Sriwijaya – kerajaan Buddhis yang pernah perjaya di kepulauan Melayu pada abad ke-8-10 M – masih kuat kendati mulai dilanda krisis ekonomi yang menyebabkan pamornya pudar. Di Jawa Timur sedang bangkit sebuah kerajaan Hindu terbesar sepanjang sejarah, yaitu Majapahit (1292-1498 M). Pada pertengahan abad ke-14 M ketika tampuk pemerintahan berada di tangan Prabu Hayam Wuruk dengan mahapatihnya yang terkenal Gajah Mada, kerajaan ini berambisi memperluas wilayah imperiumnya. Bagi memenuhi ambisinya itu Majapahit mengirimkan pasukan militernya ke Sumatra , dengan tujuan menundukkan kerajaan-kerajaan Melayu termasuk Sriwijaya.
Pada kurun-kurun tersebut banyak peperangan yang yang dihadapi komunitas Islam yang telah memiliki dua kerajaan besar dan makmur yaitu Samudra Pasai (1272-1516 M) di Aceh Sumatra dan kesultanan Malaka (1400-1511 M)di Semenanjung Malaya . Yang terakhir ini merupakan lanjutan dari kerajaan Sriwijaya. Ia didirikan oleh raja terakhir Sriwijaya, Prabu Paramesywara, yang berhasil melarikan diri bersama pengikutnya ketika ibukota kerajaan Sriwijaya diluluh lantakkan oleh tentara Majapahit pada akhir abad ke-14 M. Pada tahun 1411 M ketika Malaka berkembang pesat menjadi pusat kegiatan perdagangan, Paramesywara kawin dengan putri raja Pasai dan memeluk agama Islam (Wolters 1970). Sejak itu Malaka menjadi pusat penyebaran agama Islam dan pusat kegiatan penulisan sastra Melayu Islam.
Samudra Pasai sendiri mendapat giliran untuk diserbu oleh armada Majapahit pada tahun 1350 M. Melalui peperangan sengit di laut dan darat, pada akhirnya Samudra Pasai menyerah. Tetapi karena Pasai merupakan pelabuhan dagang penting dan strategis di Selat Malaka, negeri itu tidak dihancurkan seperti halnya ibukota Sriwijaya. Tentara Majapahit membawa banyak harta rampasan dan tawanan perang. Di antara tawanan perang itu terdapat banyak bangsawan lelaki dan wanita, saudagar, tabib, ulama, cendekiawan Muslim, dan mantan perajurit dan komandan perang. Di Majapahit, tawanan-tawanan perang yang berjumlah besar itu diberi tempat khusus di Ampel Denta. Karena begitu banyaknya pangeran-pangeran Majapahit terpikat pada putri Pasai, dan juga karena banyaknya putri Majapahit jatuh hati kepada pemuda Pasai, terjadilah kawin silang yang tidak terelakkan dengan keharusan memeluk agama Islam bagi pemuda Majapahit yang menikahi putri Pasai. Sejak masa itulah agama Islam berkembang pesat di pulau Jawa (Ibrahim Alfian 1999). Di daerah ini pulalah kelak lahir wali-wali utama penyebar Islam seperti Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan lain sebagainya.
Bukan tidak mungkin dari komunitas Muslim awal di Jawa Timur inilah karya-karya Arab dan Persia , termasuk eposnya, diperkenalkan dalam kesusastraan Jawa. Puisi-puisi suluk karya Sunan Bonang, wali dan sastrawan prolifik yang hidup antara pertengahan abad ke-15 dan awal abad ke-16 M, mendedahkan bahwa pada akhir abad ke-15 M sudah banyak karya-karya Arab dan Persia dikenal oleh kaum terpelajar Muslim di pulau Jawa (Drewes 1968). Berbagai perayaan keagamaan yang sampai sekarang masih hidup di pulau Jawa, seperti Grebeg Maulud, Sekaten, Asura, dan lain-lain, diperkenalkan oleh para wali pada masa awal berdirinya kesultanan Demak awal abad ke-16 M. Perayaan-perayaan itu, khususnya Asura, dan penyelenggaraannya didasarkan pada keterangan yang terdapat dalam teks-teks sastra Persia dan Arab. Walaupun diberi kemasan budaya lokal.
Di kepulauan Melayu sendiri, hikayat berkenaan dengan keasyihan Husein dan peperangan antara Muhammad Ali Hanafiyah dan Yazid, tidak kurang menonjol peranan dan pengaruhnya. Sumber sejarah Melayu yang awal, yaitu Hikayat Raja-raja Pasai (akhir abad ke-14 M) dan Sejarah Melayu (abad ke-16 M), menunjukkan bukti bahwa epos-epos Persia dan Arab itu telah memeberikan pengaruh kuat terhadap perkembangan kesusastraan Melayu sejak awal abad ke-14 M. Deskripsi tentang peperangan dalam Hikayat Raja-raja Pasai, misalnya episode peperangan pasukan Tun Berahim Bapa dengan gerombolan orang Keling yang ingin membuat kekacauan di Pasai, sangat mirip dengan deskripsi yang terdapat dalam Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah (Hill 1960).
Sumber-sumber Melayu juga menjelaskan bahwa sudah lazim orang Islam mengadakan majlis-majlis pembacaan sastra. Jenis sastra paling disukai dan kerap dibaca dalam majlis-majlis seperti itu ialah Suluk (syair tasawuf), roman (kisah petualangan campur percintaan), dan hikayat perang atau epos. Khusus mengenai populernya Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah dijelaskan dalam Sejarah Melayu. Yaitu dalam episode yang mengisahkan perang yang meletus antara Malaka dan pasukan Portugis yang menyerang untuk menguasai Malaka. Di situ dipaparkan bahwa pada malam hari ketika perajurit-perajurit Malaka sedang istirahat di kapal perang, mereka meminta dibacakan sebuah hikayat perang agar untuk memelihara semangat. Hikayat yang dipilih untuk dibaca ialah Hikayat Muhammad ali Hanafiyah. Ini tidak mengherankan karena hikayat ini penting dalam berbagai aspeknya termasuk aspek isi, emosi, nilai kebudayaan, dan sosiopolitiknya (Winstedt 1970; Ali Ahmad 1996).
Hasil-hasil penelitian yang mendalam berkenaan dengan perkembangan sastra Indonesia klasik memperlihatkan pula bahwa tidak sedikit hikayat-hikayat lokal dalam sastra Aceh, Jawa, Madura, Bugis, Makassar, Minangkabau, Sasak, Sunda, Banjar, dan lain-lain dilhami oleh hadirnya epos-epos Islam seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sayidina Husein, Hikayat Iskandar Zulkarnaen, dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Contoh yang paling cemerlang ialah Hikayat Hang Tuah dalam sastra Melayu, dan Hikayat Prang Geudong di Aceh yang memaparkan perjuangan Sultan Iskandar Muda, antara lain mengusir angkatan laut Portugis yang ingin menguasai Selat Malaka pada awal abad ke-17 M. Juga memerangi raja Melayu yang bersekutu dengan kaum kolonial untuk menghancurkan Aceh Darussalam sebagai kesultanan Islam terbesar di Asia Tenggara ketika itu (Abdul Hadi W.M 2001).
Tetapi momentum yang membuat membuat epos Islam semakin memperlihatkan relevansi dan kebermaknaannya ialah pada abad ke-17 – 19 M, masa-masa maraknya perang anti kolonial yang dimulai dengan Perang Ternate pada awal abad ke-17 M sampai perang Perang Aceh yang berlangsung begitu lama pada akhir abad ke-19 M. Pemimpin peperangan ini sebagian besar adalah tokoh Islam, seperti pangeran, kapitan, guru tariqat sufi, raja, ulama, dan lain sebagainya. Pada umumnya tokoh-tokoh tersebut adalah pembaca karya sastra yang sangat menyukai epos. Contoh terbaik ialah Pangeran Trunojoyo, pemimpin perang melawan VOC dan sekutunya Mataram pada akhir abad ke-17 M. Dan Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825-1830) . Pada malam hari, seraya mempersiapkan diri untuk maju ke medan perang esok harinya, kedua tokoh itu sering membacakan epos Islam masyhur untuk komandan perang dan pembantu dekatnya. Kitab-kitab hikayat itu selalu dibawa setiap kali berpindah tempat (Ricklefs 1982).
Selama Perang Aceh berlangsung hampir empat dekade pada akhir abad ke-19 M, majlis-majlis pembacaan epos selalu berlangsung pada malam hari. Diilhami epos-epos yang telah ada, seorang penyair Aceh akhir abad ke-19 M Cik Pante Kulu menulis hikayat terkenal yaitu Hikayat Perang Sabil. Pembacaan hikayat ini oleh sang penyair, dan juga hikayat perang lainnya, mampu memulihkan semangat juang perajurit Aceh yang mulai melemah pada akhir abad ke-19 M. Paparan dalam Hikayat Soydina Usin sendiri di Aceh bukan saja dijadikan dasar penyelenggaraan Hari Asan Usin atau Hari Asura, tetapi juga mengilhami bentuk tari yang heroik dan masyhur Seudati. Tepukan dada berulang-ulang yang dilakukan penari Seudati dapat dirujuk pada deskripsi dalam Hikayat Sayidina Husein, yaitu episode takziyah, ketika Syahrbanum dan sanak saudaranya menangis dan menepuk-nepuk dada begitu mendengar Sayidina Husein gugur di padang Kerbela dengan tangan terpotong, tubuh berlumur darah dan kepala terpisah dari badan.
0 komentar:
Posting Komentar