Membaca Tanda-tanda Zaman
Sebuah SMS (short message service - pesan singkat) dikirim seorang teman dari Bali. Ia membuka pesan itu dengan kalimat pendek: Serat Kodrat.
Bila anda mengerti bahasa Jawa, jelas bahwa maksud pesan itu adalah sebuah nasihat, paparan atau petuah. Kata "serat" memang memiliki arti demikian. Kata itu juga lazim digunakan sebagai terjemahan kata "surat" dalam bahasa jawa. Maka, dalam konteks yang lain kata "serat" juga bisa dimengerti sebagai sebuah "pesan". Tetapi penggunaan kata itu sendiri, dengan maksud khusus, kini sudah tidak lazim. Kata serat memang identik dengan karya-karya sastra adiluhung di era pujangga Ronggo Warsito seperti Serat Centini, yang hingga kini diakui oleh dunia tidak hanya dari segi susastranya saja, tetapi nilai-nilai yang tak lekang ditelan zaman.
Mari kita baca saja serat ini.
Serat Kodrat
"Zaman wadone pamer aurat, lanangne ngumbar syahwat, sing laris jamu kuwat. Wondone ora tobat, wegah tirakat, malah nengenke maksiat. Rina wengi krungu sesambat, akeh wong malarat uripe kesrakat. Ketigo kaline asat, rendeng ngelabi jagat. Lindu ka-liwat-liwat, samodra munggah darat. Manungso bakal slamet tekane kiamat, yen jagat dirawat. Sregepa salawat lan munajat, ,Pangeran bakal paring rahamat."
"Ini jaman wanita pamer aurat, sementara lelakinya mengumbar syahwat, yang laku jamu kuat. Toh demikian mereka tidak bertaubat, tidak mau tirakat, malah berbuat maksiat. Siang malam terdengar jeritan, banyak orang miskin-melarat dan hidup kesusahan. Musim kemarau sungai-sungai kering, musim hujan air menggenang jagad. Gempa silih berganti, lautan tumpah ke darat. Manusia akan selamat sampai kiamat, jika alam dirawat. -Mendekatlah kepada Tuhan, maka Dia akan memberi rahmat."
Siapapun Anda, apapun posisi dan peran Anda, serta apapun keyakinan dan agama Anda, perlulah sejenak mengistirahatkan pikiran dan ritual keseharian bernama kesibukan. Kesibukan-kesibukan yang secara tidak sadar menjauhkan diri dari kepekaan nurani untuk kemudian mengasah dan mempertajam kembali hal-hal yang tidak terlihat dalam pandangan jiwa kita. Lihatlah, apakah yang telah kita capai dengan kesibukan, kepandaian, modernisasi, penguasaan teknologi, serta bangunan-bangunan megah institusi bernama Republik ini? Dalam pandangan lahiriah kita akan ngatakan: "Inilah negeri yang sedang berbenah. Negeri yang semakin cantik. Negeri yang kian demokratis. Negeri yang menjanjikan. Dan seterusnya..." Tetapi dibalik gemerlap pandangan materi yang kita junjung tingi-tinggi itu, tampaknya ruh dan jiwa negeri ini tengah keropos. Kekeroposan itu telah menumpulkan syaraf-syaraf motorik tubuh negeri ini, hingga demikian lemah dan lambatnya untuk merespon, belajar, menangkap serta membaca tanda-tanda jaman secara jernih.
Kekaburan pandangan itu dengan sendirinya menciptakan langkah-langkah dan tindakan yang tidak terkontrol. Gerakan sproradis melawan serangan musuh yang tidak tahu darimana arahnya. Celakanya, kita seperti tidak tahu siapa musuh-musuh itu. Mereka bersembunyi tengah keramaian. Mereka ada di rumah-rumah kita. Dijalan-jalan. Di kantor-kantor. Bahkan di tempat-tempat terhormat. Demikian kaburnya sehingga jurus-jurus solusi yang diterapkan salah sasaran bahkan menimbulkan masalah baru.
Inilah kampung Indonesia yang kita diami. Ia adalah amanat yang mesti dijaga dan kelengahan-kelengahan untuk memeliharanya. Masih jelas terngiang ajaran guru SD dulu : "Anak-anak, kita mesti bangga memiliki negeri yang subur makmur. Negeri yang melimpah dan kaya raga dengan sumber alamnya". Bahakan, kata kelompok musik Koes Plus, "Tanah kita tanah sorga. Tongkat kayo dan batu jadi tanaman".
Tetapi apa yang kita saksikan hari ini. Negeri subur makmur dan kaya raya itu menderita kekurangan. Busung lapar melanda. Penyakit mendera. Kekayaan sumber alam juga mulai kikis. Hutan-hutan hancur terjarah tangan-tangan rakus. Sumber minyak bumi yang katanya melimpah, entah kenapa mengering. Orang-orang mengantri bensin dan minyak tanah. Kejadian langka dan aneh di sebuah negeri penghasil minyak ini, kondisi yang belum pernah terjadi bahkan di negeri yang tidak memiliki minyak sekalipun.
Bersyukurlah, alam telah begitu bijak memberi tandatanda kepada kita. Tuhan telah menunjukan ayat-ayat Nya. Jika hanya banjir dan longsor yang terjadi tiap tahun, sepertinya belum ampuh menyadarkan perusak-perusak keseimbangan alam ini. Lalu gempa dan gelombang tsunami datang menggulung. Semua telah menjadi catatan, betapa rapuhnya manusia. Mungkin dengan cara demikian Tuhan harus menurunkan titah-Nya. Mungkin karena demikian bisu, tuli, dan tertutupnya jiwa ini, maka bumi pertiwi harus digetarkan.
Lalu masih adakah yang hendak kita hitung serta banggakan dari keberhasilan dan prestasi di tengah keterpurukan yang demikian dalam?
Barangkali betul, kita berhasil mendidik generasi kita ke alam informasi yang liar. Semua atas nama kebebasan informasi. Kita biarkan anak-anak kita belajar tekun di depan televisi. Makana prestasi telah berubah total di jaman citra yang penuh rekayasa ini. Data prestasi berarti kemampuan lenggak-lenggok, bersuara merdu, bersandiwara memerankan kehidupan-kehidupan keras dan kering nilai-nilai.
Kita juga biarkan saudara-saudara bermimpi menjadi miliarder dalam semalam. Bagaikan kisah Aladin dengan sim salabim. Kita tampilkan orang-orang miskin dalam televisi menjadi tontonan hiburan reality show. Kemiskinan ternyata telah menjadi komoditas baru dalam industri hiburan. Mereka, orang-orang miskin itu, secara tidak sadar ikut mendorong konsumerisme produk-produk massal melalui iklan yang membiayai acara-acara itu.
Jadi tidak hanya politisi yang "menjual" kemiskinan sebagai tema kampanye saat pencalonan mereka dulu. Mereka telah banyak berbuat. Mereka juga telah keluar biaya yang tidak sedikit untuk menduduki posisi-posisi itu. Maka, nalar ekonomi alamiah muncul. Mengambil uang tambahan di luar gaji resmi, menjadi kebutuhan.
Siapa yang salah? Barangkali kita semua bersalah. Mungkin kita semua telah belajar manipulasi sejak kecil. Sejak anak-anak mulai kenal uang jajan sekolah. Saat anak-anak kita ajarkan berbohong, dari hal-hal kecil dan sepele.
Inilah tanda-tanda jarnan.
Enam puluh dua tahun lalu, bulan Agustus terasa mqgnitudenya. Bulan ini seolah begitu magis. Suasana heroik begitu kental. Ya, memang kita sedang memperingati kemerdekaan 17 Agustus '45. Masih terngiang dalam ingatan sang Kepala Sekolah dalam wejangannya selalu mengatakan: "Anak-anakku, kemerdekaan republik ini telah direbut dengan seluruh jiwa pendahulu kita. ,Mereka adalah para syuhada yang dengan ikhlas berjihad merebut kembali negeri ini untuk kita. Karena itu, mari kita isi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiktiva. Mari pelihara jasa-jasa para pahlawan kita".
Kini, kibar bendera merah putih itu seperti kehilangan magnitnva. Di kota-kota, bahkan kibarnya begitu malas. Mungkin karena sudah senja, maklum sudah 62 tahun berlalu. Seperti manula yang sudah sakit-sakitan. Mereka kalah pamor dengan spanduk-spanduk warna-warni berbagai kebutuhan modern. Dan rumah, mobil, pakaian, sembako, HP, bahkan kebutuhan-kebutuhan yang sebetulnya tidak kita butuhkan.
Mengapa?
Mungkin karena kita hanva diajarkan untuk mengenang para pahlawan. Kita tidak diajarkan untuk menjadi pahlawan. Celakanya, nama-nama pahlawan itu telah lenyap dalam ingatan, kalah dengan nama-nama bintang sinetron dan Hollywood. Heroisme dan keberanian mereka hanya sampai pada kenangan. Mereka hanya menjadi nisan bisu yang hanya dikunjungi tiap musim praktek pelajaran sejarah.
Jaman telah berubah. Ia juga telah memberikan tanda-tandanya. Bangsa ini juga mesti berubah. Kita perlu sejarah baru. Tidak hanya pemimpin baru yang bersih dan bermoral. Kita perlu pahlawan baru. Kita tidak hanya berharap pada satu dan dua orang yang kita anggap mampu.
Siapapun Anda, di manapun, dan apapun posisi sosial yang disandang, Anda adalah pahlawan bagi negeri ini. Karenanya, zaman membutuhkan kita untuk berubah menjadi lebih baik.
0 komentar:
Posting Komentar